A.
Pendekatan
Sifat
Pendekatan
ini mengasumsikan bahwa kepemimpinan mempunyai beberapa sifat kepribadian yang
sama dibawa sejak lahir.[1]
Didalam
uraian tentang konsep-konsep kepemimpinan terutama konsep yang pertama telah
dikemukakan bahwa keberhasilan atau kegagalan seseorang pemimpin banyak
ditentukan atau dipengaruhi oleh sifat – sifat yang dimiliki oleh pribadi
pemimpin. Sifat – sifat itu ada pada seseorang karena pembawaan atau keturunan.
Jadi, menurut pendekatan ini, seseorang menjadi pemimpin karena sifat –
sifatnya yang dibawa sejak lahir, bukan karena dibuat atau dilatih. Seperti
dikatakan oleh Thierauf pendekatan
keturunan yang menyatakan bahwa pemimpin adalah
dilahirkan bukan dibuat – bahwa pemimpin tidak dapat memperoleh
kemampuan untuk memimpin, tetapi mewarisi.
Banyak
ahli yang telah berusaha meneliti dan mengemukakan pendapatnya mengenai sifat –
sifat baik manakah yang diperlukan bagi seorang pemimpin agar dapat sukses
dalam kepemimpinannya. Ghizeli dan Stogdil, misalnya mengemukakan adanya lima
sifat yang perlu dimiliki seorang pemimpin, yaitu kecerdasan, kemampuan
mengawasi, inisiatif, ketenangan diri, dan kepribadian. Thierauf dan teman –
teman mengemukakan 16 sifat kepemimpinan yang baik, yaitu kecerdasan,
inisiatif, daya khayal, bersemangat, optimesme, individualisme, keberanian,
keaslian, kesediaan menerima, kemampuan berkomunikasi, rasa perlakuan yang
wajar terhadap sesame, kepribadian, keuletan, manusiawi, kemampuan mengawasi,
dan ketenangan diri. Meskipun telah banyak peneliti tentang sifat- sifat
kepemimpinan, hingga kini para peneliti tidak berhasil menemukan satu atau
jumlah sifat yang dapat dipakai sebagai ukuran untuk membedakan pemimpin dan
bukan pemimpin.
B.
Pendekatan
Prilaku
Tingkah
laku tidak sama dengan sifat dapat dipelajari pendekatan ini mengikuti aliran
bahwa individu yang dilatih dalam tingkah Lku kepemimpinan.[2]
Pendekatan
prilaku (behavioral approach) merupakan pendekatan yangberdasarkan pemikiran
keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh sikap dan gaya
kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin yang bersangkutan. Sikap dan gaya
kepemimpinan itu tampak dalam kegiatan sehari-hari, dalam hal bagaimana cara
pemim pin memberi perintah, membagi tugas dan wewenangnya, cara berkomonikasi,
cara mendorong semangat kerja bawahan, cara member bimbingan dan pengawasan,
cara membina disiplin kerja bawahan, cara menyelenggarakan dan memimpin rapat
anggota, cara mengambil keputusan, dan sebagainya.
Pendekatan prilaku inilah yang
selanjutnya melahirkan berbagai tentang teori tentang tipe atau gaya
kepemimpinan. Beberapa teori yang berdasarkan pendekatan prilaku akan
dikemukakan dalam uraian berikut.
1).
Teori Tannebaum dan schmid
Robert tennabaum dan warren A. Schmid
mengemukakan bermacam-acam gaya kepemimpinan yangdapat dilukiskan sebagai suatu
kontinum.kontinum tersebut tersebut tersebar diantara dua gaya kepemimpiana
yang ekstrem , yaitu gaya kepemimpinan yang otokratis dan gaya kepemimpinan
laissez faire.jika kontinum dapat diumpamakan sebagai suatu garis , maka ujung
garis yang satu terletak pada gaya kepemimpinan otokratis dan ujung garis
satunya terletak pada gaya kepemimpian demokratis.
2). Studi kepemimpinan Universitas Ohio
Universitas negeri ohio (ohio state
university) mengembangkan instrument yang disebut leader behavior description questionnaire
(LBDQ) dan leader opinion questionnaire (LOQ) untik mempelajari bagaimana
seorang pemimpin menjalankan tugasnya.
3).
Studi Kepemimpinan Universitas Micghigan
Pusat penelitian survei universitas
michigan melakukan penelitian untuk mempelajarimasalah kepemimpinan. Dari hasil
penelitiannya ditemukan adanya dua macam prilaku kepemimmpinan, yaitu the jo-
centered (terpusat pada pekerjaan) dan employye- centered(terpusat pada
pekerjaan /bawahan) .
4).
Jaringan manajerial (Managerial grid)
Teori
atau pendekatan jaringan manajerial ini dikembangkan oleh Robert K.Bbake dan
james S. Mouton. Dalam pendekatan ini dikenal adanya dua macam perilaku
kepemimpinan,yaitu perhatian terhadap produksi (concern for production) dan
perhatian terhadap orang (concern for peo-ple). Pada perinsipnya kedua perilaku
kepemimpinan tersebut sama dengan yang telah dibicarakan terdahulu pada
subpasal b dan c.
C. Pendekatan Situasional
Pendekatan
ini biasa disebut juga pendekatan Kontingensi, pendekatan yang berdasarkan atas
asumsi bahwa keberhasilan kepemimpinan suatu organisasi atau lembaga tidak
hanya tergantung pada atau dipegaruhi oleh prilaku dan sifat pemimpin saja.
Menurut pendapat Hersey dan Blanchard bahwa pendekatan situasional ini
merupakan suatu teori yang berusaha mencari jalan tengah antara pandangan yang
mengatakan bahwa adanya asas-asas organisasi dan manajemen yang bersifat
Universal, pandangan yang berpendapat bahwa tiap organisasi adalah unik dan
memiliki situasi yang berbeda-beda sehingga harus dihadapi dengan gaya
kepemimpinan tertentu.
Salah satu factor yang menunjukan adanyan perbedaan
situasi organisasi adalah tingkat kematangan dan perilaku kelompok atau
bawahan. Tinggi rendahnya tingkat kematangan kelompok turut menentukan kemana
kecenderungan gaya kepemimpinan harus diarahkan.
Demikian betapa banyaknya factor yang
dapat menimbulkan adanya perbedaan-perbedaan situasi tiap organisasi atau
lembaga, yang selanjutnya dapat mempengaruhi prilaku kepemimpinan, dalam
hubungan ini Sutarto mengemukakan sebagai berikut:
“berbagai factor yang dapat mempengaruhi pemilihan
gaya kepemimpinan antara lain sifat pribadi pemimpin, sifat pribadi bawahan,
sifat pribadi sesame pemimpin, struktur organisasi, kegiatan yang dilakukan,
motivasi kerja, harapan pemimpin maupun bawahan, pengalaman pemimpin maupun
bawahan, adat, kebiasaan, tradisi, budaya lingkungan kerja, tingkat pendidikan
pemimpin maupun bawahan, lokasi organisasi dikota besar, kota kecil, atau desa
kebijaksanaan atasan, teknologi, peraturan perundang-undangan yang berlaku
ekonomi, politik keamanan yang sedang berlangsung disekitarnya.”
D. Model Kepemimpinan
Beberapa model kepemimpinan yang
diutarakan disini adalah model kepemimpinan Fielder, model kepemimpinan tiga
Dimensi, dan model kepemimpinan lima factor.
1). Model kepemimpinan kontingensi Fielder
Fielder cukup dikenal dengan
teori kepemimpinan model kontingensi yang dalam literature disebut sebagai Fielder’s Contingency Model. Dlam model
ini kepemimpinan akan efektif bila menggunakan gaya kepemimpinan yang tepat
untuk berbagai situasi. [3]
Model kepemimpinan yang dikembangkan oleh Fred
E. Fielder ini berpendapat bahwa keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya
ditentukan oleh gaya kepemimpinan yang diterapkannya. Dengan kata lain, tidak
ada seorang pemimpin yang dapat berhasil hanya dengan menerapkan satu gaya
semua situasi. Seorang pemimpin akan cenderung berhasil dalam menjalankan
kepemimpinannya apabila menerapkan gaya kepemimpinan yang berlainan untuk
menghadapi situasi yang berbeda.
Menurut pendekatan ini, ada 3 variabel
yang menentukan efektif tidaknya kepemimpinan, yaitu (1) hubungan antar
pemimpin dengan yang dipimpin, (2) derajat struktur tugas, dan (3) kedudukan
kekuasaan pemimpin. Menurut Fielder, hubungan pemimpin dengan yang dipimpin
merupakan variable yang terpenting dalam menentukan situasi yang menguntungkan.
Derajat struktur tugas merupakan masukan kedua sangat penting bagi situasi yang
menguntungkan, dan kedudukan kekuasaan pemimpin yang diperoleh melalui wewenang
formal merupakan dimensi penting ketiga dari situasi.
Berdasarkan pendapat Fielder tersebut,
maka situasi organisasi atau lembaga dikatakan menguntungkan dalam arti
menentukan keberhasilan pemimpin jika.
a. Hubungan
pemimpin dengan anggota bawahan baik, pemimpin disenanggi oleh anggota
kelompoknya dan ditaati segala perintah.
b. Struktur
tugas-tugas terinci dengan jelas dan dipahami oleh tiap anggota kelompok,
setiap anggota memiliki wewenang dan tanggung jawab masing-masing secara jelas.
c. Kedudukan
kekuasaan formal pemimpin kuat dan jelas sehingga memperlancar usahanya untuk
mempengaruhi anggota kelompoknya.
Dilihat
dari tingkatanya, masing-masing variable dibedakan menjadi dua kategori sebagai
berikut:
-
Hubungan
pemimpin anggota: baik dan tidak baik
-
Derajat struktur
tugas : tinggi dan rendah
-
Kedudukan
kekuasaan pemimpin : kuat dan lemah
2).
Model kepemimpinan tiga dimensi
Pendekatan atau model kepemimpinan ini dikemukakan
oleh William J. Reddin (1970). Model ini dinamakan three-dimensional-model
karena dalam pendekatanya menghubungkan tiga kelompok gaya kepemimpinan, yang
disebutkan gaya dasar, gaya efektif, dan
gaya efektif menjadi satu kesatuan.
3).
Model Kontinum berdasarkan banyaknya
peran serta bawahan dalam pengambilan keputusan
Pengembangan model
kepemimpinan ini adalah Vroom dan Yetton, keduannya berpendapat bahwa ada dua
macam kondisi utama yang dapat dijadikan dasar bagi pemimpin untuk
mengikutsertakan atau tidak mengikutsertakan bawahan dalam pembuatan putusan.
Dua macam kondisi tersebut ialah : (1). Tingkat keefektifan teknis diantara
para bawahan (2) tingkat motivasi serta dukungan para bawahan.
E. Aplikasi Bagi
Pendidikan
Dari apa yang telah diuraikan tentang pendekatan
atau teori model-model kepemimpinan, menjakdi makin jelas bagi kita betapa
banyaknya gaya kepemimpinan yang dapat timbul oleh adanya beberapa macam
pendekatan yang berbeda. Dalam hubunganya dengan kepemimpinan pendidikan,
penulis berpendapat bahwa ketiga macam pendekatan sifat,prilaku, dan situasional
sangat diperlukan.
Dengan mengetahui berbagai model dan gaya
kepemimpinan dharapkan para pemimpin pendidikan, khususnya kepala sekolah,
dapat memilih dan menerapkan prilaku kepemimpinan mana yang dipandang lebih
efektif berdasarkan sifat-sifat, prilaku kelompok, dan kondisi serta situasi
lembaga yang dipimpinnya.
[1] Herabuddin, Administrasi & Supervisi Pendidikan, (Bandung : CV
Pustaka Setia, 2009) hlm 187 cet pertama
[2] Herabuddin, Administrasi & Supervisi Pendidikan, (Bandung : CV
Pustaka Setia, 2009)hlm 187 cet pertama
[3] Sudarman Danim,kepemimpinan
pendidikan (kepemimpinan jenius (Iq+Eq),etika,prilaku motivasional,dan mitos),
(Bandung:Alfabeta, 2010), hlm 90-91.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar