Minggu, 04 Mei 2014

PENDEKATAN DAN MODEL KEPEMIMPINAN



A.    Pendekatan Sifat

Pendekatan ini mengasumsikan bahwa kepemimpinan mempunyai beberapa sifat kepribadian yang sama dibawa sejak lahir.[1]
Didalam uraian tentang konsep-konsep kepemimpinan terutama konsep yang pertama telah dikemukakan bahwa keberhasilan atau kegagalan seseorang pemimpin banyak ditentukan atau dipengaruhi oleh sifat – sifat yang dimiliki oleh pribadi pemimpin. Sifat – sifat itu ada pada seseorang karena pembawaan atau keturunan. Jadi, menurut pendekatan ini, seseorang menjadi pemimpin karena sifat – sifatnya yang dibawa sejak lahir, bukan karena dibuat atau dilatih. Seperti dikatakan oleh Thierauf  pendekatan keturunan yang menyatakan bahwa pemimpin adalah  dilahirkan bukan dibuat – bahwa pemimpin tidak dapat memperoleh kemampuan untuk memimpin, tetapi mewarisi.
Banyak ahli yang telah berusaha meneliti dan mengemukakan pendapatnya mengenai sifat – sifat baik manakah yang diperlukan bagi seorang pemimpin agar dapat sukses dalam kepemimpinannya. Ghizeli dan Stogdil, misalnya mengemukakan adanya lima sifat yang perlu dimiliki seorang pemimpin, yaitu kecerdasan, kemampuan mengawasi, inisiatif, ketenangan diri, dan kepribadian. Thierauf dan teman – teman mengemukakan 16 sifat kepemimpinan yang baik, yaitu kecerdasan, inisiatif, daya khayal, bersemangat, optimesme, individualisme, keberanian, keaslian, kesediaan menerima, kemampuan berkomunikasi, rasa perlakuan yang wajar terhadap sesame, kepribadian, keuletan, manusiawi, kemampuan mengawasi, dan ketenangan diri. Meskipun telah banyak peneliti tentang sifat- sifat kepemimpinan, hingga kini para peneliti tidak berhasil menemukan satu atau jumlah sifat yang dapat dipakai sebagai ukuran untuk membedakan pemimpin dan bukan pemimpin.
B.     Pendekatan Prilaku
Tingkah laku tidak sama dengan sifat dapat dipelajari pendekatan ini mengikuti aliran bahwa individu yang dilatih dalam tingkah Lku kepemimpinan.[2]
Pendekatan prilaku (behavioral approach) merupakan pendekatan yangberdasarkan pemikiran keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh sikap dan gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin yang bersangkutan. Sikap dan gaya kepemimpinan itu tampak dalam kegiatan sehari-hari, dalam hal bagaimana cara pemim pin memberi perintah, membagi tugas dan wewenangnya, cara berkomonikasi, cara mendorong semangat kerja bawahan, cara member bimbingan dan pengawasan, cara membina disiplin kerja bawahan, cara menyelenggarakan dan memimpin rapat anggota, cara mengambil keputusan, dan sebagainya.
           Pendekatan prilaku inilah yang selanjutnya melahirkan berbagai tentang teori tentang tipe atau gaya kepemimpinan. Beberapa teori yang berdasarkan pendekatan prilaku akan dikemukakan dalam uraian berikut.
1). Teori Tannebaum dan schmid
           Robert tennabaum dan warren A. Schmid mengemukakan bermacam-acam gaya kepemimpinan yangdapat dilukiskan sebagai suatu kontinum.kontinum tersebut tersebut tersebar diantara dua gaya kepemimpiana yang ekstrem , yaitu gaya kepemimpinan yang otokratis dan gaya kepemimpinan laissez faire.jika kontinum dapat diumpamakan sebagai suatu garis , maka ujung garis yang satu terletak pada gaya kepemimpinan otokratis dan ujung garis satunya terletak pada gaya kepemimpian demokratis.
2). Studi kepemimpinan Universitas Ohio
           Universitas negeri ohio (ohio state university) mengembangkan instrument yang disebut leader behavior description questionnaire (LBDQ) dan leader opinion questionnaire (LOQ) untik mempelajari bagaimana seorang pemimpin menjalankan tugasnya.
3). Studi Kepemimpinan Universitas Micghigan
           Pusat penelitian survei universitas michigan melakukan penelitian untuk mempelajarimasalah kepemimpinan. Dari hasil penelitiannya ditemukan adanya dua macam prilaku kepemimmpinan, yaitu the jo- centered (terpusat pada pekerjaan) dan employye- centered(terpusat pada pekerjaan /bawahan) .
4). Jaringan manajerial (Managerial grid)
       Teori atau pendekatan jaringan manajerial ini dikembangkan oleh Robert K.Bbake dan james S. Mouton. Dalam pendekatan ini dikenal adanya dua macam perilaku kepemimpinan,yaitu perhatian terhadap produksi (concern for production) dan perhatian terhadap orang (concern for peo-ple). Pada perinsipnya kedua perilaku kepemimpinan tersebut sama dengan yang telah dibicarakan terdahulu pada subpasal b dan c.
C. Pendekatan Situasional
           Pendekatan ini biasa disebut juga pendekatan Kontingensi, pendekatan yang berdasarkan atas asumsi bahwa keberhasilan kepemimpinan suatu organisasi atau lembaga tidak hanya tergantung pada atau dipegaruhi oleh prilaku dan sifat pemimpin saja. Menurut pendapat Hersey dan Blanchard bahwa pendekatan situasional ini merupakan suatu teori yang berusaha mencari jalan tengah antara pandangan yang mengatakan bahwa adanya asas-asas organisasi dan manajemen yang bersifat Universal, pandangan yang berpendapat bahwa tiap organisasi adalah unik dan memiliki situasi yang berbeda-beda sehingga harus dihadapi dengan gaya kepemimpinan tertentu.
Salah satu factor yang menunjukan adanyan perbedaan situasi organisasi adalah tingkat kematangan dan perilaku kelompok atau bawahan. Tinggi rendahnya tingkat kematangan kelompok turut menentukan kemana kecenderungan gaya kepemimpinan harus diarahkan.
Demikian betapa banyaknya factor yang dapat menimbulkan adanya perbedaan-perbedaan situasi tiap organisasi atau lembaga, yang selanjutnya dapat mempengaruhi prilaku kepemimpinan, dalam hubungan ini Sutarto mengemukakan sebagai berikut:
“berbagai factor yang dapat mempengaruhi pemilihan gaya kepemimpinan antara lain sifat pribadi pemimpin, sifat pribadi bawahan, sifat pribadi sesame pemimpin, struktur organisasi, kegiatan yang dilakukan, motivasi kerja, harapan pemimpin maupun bawahan, pengalaman pemimpin maupun bawahan, adat, kebiasaan, tradisi, budaya lingkungan kerja, tingkat pendidikan pemimpin maupun bawahan, lokasi organisasi dikota besar, kota kecil, atau desa kebijaksanaan atasan, teknologi, peraturan perundang-undangan yang berlaku ekonomi, politik keamanan yang sedang berlangsung disekitarnya.”
D. Model Kepemimpinan
Beberapa model kepemimpinan yang diutarakan disini adalah model kepemimpinan Fielder, model kepemimpinan tiga Dimensi, dan model kepemimpinan lima factor.
1). Model kepemimpinan kontingensi Fielder
Fielder cukup dikenal dengan teori kepemimpinan model kontingensi yang dalam literature disebut sebagai Fielder’s Contingency Model. Dlam model ini kepemimpinan akan efektif bila menggunakan gaya kepemimpinan yang tepat untuk berbagai situasi. [3]
  Model kepemimpinan yang dikembangkan oleh Fred E. Fielder ini berpendapat bahwa keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh gaya kepemimpinan yang diterapkannya. Dengan kata lain, tidak ada seorang pemimpin yang dapat berhasil hanya dengan menerapkan satu gaya semua situasi. Seorang pemimpin akan cenderung berhasil dalam menjalankan kepemimpinannya apabila menerapkan gaya kepemimpinan yang berlainan untuk menghadapi situasi yang berbeda.
      Menurut pendekatan ini, ada 3 variabel yang menentukan efektif tidaknya kepemimpinan, yaitu (1) hubungan antar pemimpin dengan yang dipimpin, (2) derajat struktur tugas, dan (3) kedudukan kekuasaan pemimpin. Menurut Fielder, hubungan pemimpin dengan yang dipimpin merupakan variable yang terpenting dalam menentukan situasi yang menguntungkan. Derajat struktur tugas merupakan masukan kedua sangat penting bagi situasi yang menguntungkan, dan kedudukan kekuasaan pemimpin yang diperoleh melalui wewenang formal merupakan dimensi penting ketiga dari situasi.
      Berdasarkan pendapat Fielder tersebut, maka situasi organisasi atau lembaga dikatakan menguntungkan dalam arti menentukan keberhasilan pemimpin jika.
a.       Hubungan pemimpin dengan anggota bawahan baik, pemimpin disenanggi oleh anggota kelompoknya dan ditaati segala perintah.
b.      Struktur tugas-tugas terinci dengan jelas dan dipahami oleh tiap anggota kelompok, setiap anggota memiliki wewenang dan tanggung jawab masing-masing secara jelas.
c.       Kedudukan kekuasaan formal pemimpin kuat dan jelas sehingga memperlancar usahanya untuk mempengaruhi anggota kelompoknya.

Dilihat dari tingkatanya, masing-masing variable dibedakan menjadi dua kategori sebagai berikut:
-          Hubungan pemimpin anggota: baik dan tidak baik
-          Derajat struktur tugas : tinggi dan rendah
-          Kedudukan kekuasaan pemimpin : kuat dan lemah
2). Model kepemimpinan tiga dimensi
Pendekatan atau model kepemimpinan ini dikemukakan oleh William J. Reddin (1970). Model ini dinamakan three-dimensional-model karena dalam pendekatanya menghubungkan tiga kelompok gaya kepemimpinan, yang disebutkan gaya dasar, gaya efektif, dan gaya efektif menjadi satu kesatuan.
3). Model Kontinum berdasarkan banyaknya peran serta bawahan dalam pengambilan keputusan
                  Pengembangan model kepemimpinan ini adalah Vroom dan Yetton, keduannya berpendapat bahwa ada dua macam kondisi utama yang dapat dijadikan dasar bagi pemimpin untuk mengikutsertakan atau tidak mengikutsertakan bawahan dalam pembuatan putusan. Dua macam kondisi tersebut ialah : (1). Tingkat keefektifan teknis diantara para bawahan (2) tingkat motivasi serta dukungan para bawahan.
E. Aplikasi Bagi Pendidikan
Dari apa yang telah diuraikan tentang pendekatan atau teori model-model kepemimpinan, menjakdi makin jelas bagi kita betapa banyaknya gaya kepemimpinan yang dapat timbul oleh adanya beberapa macam pendekatan yang berbeda. Dalam hubunganya dengan kepemimpinan pendidikan, penulis berpendapat bahwa ketiga macam pendekatan sifat,prilaku, dan situasional sangat diperlukan.
Dengan mengetahui berbagai model dan gaya kepemimpinan dharapkan para pemimpin pendidikan, khususnya kepala sekolah, dapat memilih dan menerapkan prilaku kepemimpinan mana yang dipandang lebih efektif berdasarkan sifat-sifat, prilaku kelompok, dan kondisi serta situasi lembaga yang dipimpinnya.



[1] Herabuddin, Administrasi & Supervisi Pendidikan, (Bandung : CV Pustaka Setia, 2009) hlm 187 cet pertama
[2] Herabuddin, Administrasi & Supervisi Pendidikan, (Bandung : CV Pustaka Setia, 2009)hlm 187 cet pertama
[3] Sudarman Danim,kepemimpinan pendidikan (kepemimpinan jenius (Iq+Eq),etika,prilaku motivasional,dan mitos), (Bandung:Alfabeta, 2010), hlm 90-91.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar